timeline({
    "title": {
      "media": {
        "url": "images/literasi/736 abb1 f1-74m22.jpg",
        "caption": "Penghuni sebuah kamp tahanan di Bali sedang membaca koran",
        "credit": "P.L.Dronkers"
      },
      "text": {
        "headline": "Literasi Era Modern di Bali Tahun 1875 - 1949",
        "text": "<p></p>"
      },
      "eras": {
        "start_date": {
          "year": "1946"
        },
        "end_date": {
          "year": "1950"
        }
      }
    },
    "events": [
      {
        "text": {
          "headline": "Sekolah Dasar Pertama di Bali",
          "text": "Sekolah dasar (<em>Tweede Klasse Inlandsche School</em>) pertama di Bali diresmikan di Singaraja"
        },
        "start_date": {
          "year": "1875"
        }
      },
      {
        "text": {
          "headline": "Sekolah Dasar Desa",
          "text": "<p>Di berbagai tempat di Bali dibuka Sekolah Dasar Desa (<em>Volksschool</em>) yang menggunakan Bahasa Bali sebagai bahasa pengantar. Pada saat itu sebagian besar murid serta guru-gurunya adalah orang biasa</p><p>Sedangkan para bangsawan enggan menyekolahkan anak-anak mereka di sana dengan alasan status social.</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": 1908
        }
      },
      {
        "media": {
          "exclude": true,
          "url": "images/literasi/KITLV-181198.jpg",
          "caption": "HIS Siladarma di Klungkung dibuka secara resmi pada 10 Juli 1929 dengan H. te Flierhaar sebagai kepala sekolah",
          "credit": "KITLV 181198"
        },
        "text": {
          "headline": "Sekolah Dasar Belanda",
          "text": "<p>Sekolah Dasar dengan kurikulum sekolah Belanda (<em>Hollandsch-Inlandsche School, HIS</em>) dibuka di Singaraja dan Denpasar. Materi pelajarannya selain membaca, menulis dan berhitung, juga belajar Bahasa Melayu dan Belanda</p><p>Kebanyakan muridnya adalah anak-anak bangsawan. Namun untuk melanjutkan ke pendidikan menengah mereka harus melanjutkannya ke Jawa atau Makasar. Setidaknya sekitar 60 orang siswa melanjutkan sekolah ke luar Bali</p><p>Berdasarkan sensus 1920, 8% laki-laki dan hanya 0,35 % perempuan Bali telah bisa membaca dan menulis huruf latin.</p><p>Hingga tahun 1929 telah ada 3 HIS, 29 Tweede Klasse Inland Scholen dan 109 Volkssholen. Salah satu dari 3 HIS itu adalah HIS Siladarma yang berada di Klungkung atas prakarsa Raja Karangasem dan Gianyar karena jarak ke Denpasar dan Singaraja dirasa jauh.</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1914"
        }
      },
      {
        "media": {
          "exclude": true,
          "url": "images/literasi/literasi-001.jpg",
          "caption": "Buku dengan huruf latin dan aksara Bali terbitan 1915",
        },
        "text": {
          "headline": "Buku dengan huruf latin dan aksara Bali",
          "text": "<p>Sebuah buku dengan aksara Java dan Bali bersanding dengan huruf latin dengan judul <em>\"Beschrijving der Javaansche, Balineesche en Sasaksche handschriften\"</em> diterbitkan di Batavia. Sebagian besar isinya adalah warisan dari Van der Tuuk</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1915"
        }
      },
      {
        "text": {
          "headline": "Perkumpulan Setiti Bali",
          "text": "Sebuah perkumpulan bermana <em>Setiti Bali</em> yang bertujuan memajukan masyarakat Bali dalam bidang pendidikan, adat istiadat dan perkonomian berdiri di Singaraja"
        },
        "start_date": {
          "year": "1917"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/1550 bbb1 f1-74m23.JPG",
          "caption": "Tempat lontar, circa 1947",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Menghilangkan faham <em>Ajewera</em>",
          "text": "Perkumpulan <em>Suita Gama Tirta</em> dengan pimpinan I Gusti Putu Djelantik berdiri di Singaraja. Perkumpulan ini menggantikan Setiti Bali yang atas desakan pemerintah serta perselisihan internal harus bubar. Salah satu yang progamnya adalah mengkikis faham <em>Ajawera</em> dengan membuka kursus-kursus dan pembacaan lontar bagi kalangan muda."
        },
        "start_date": {
          "year": "1921"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/725 abb1 f1-74m22.JPG",
          "caption": "Suasana ruang baca Perpustakaan Udiyana Adnyana Bhuwana dalam lingkup Bali Kemadjuan Singaraja tahun 1948",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Perkumpulan Modern dan Debat Lewat Tulisan",
          "text": "<p>Tahun 1920-an disebut-sebut awal munculnya perkumpulan modern di Bali. Perkumpulan yang memiliki struktur format dan anggaran dasar yang tertulis serta anggotanya bersifat sukarela, tidak seperti organisasi adat yang bersifat mengikat dalam hubungan sosial atau organisasi subak dalam ikatan wilayah dan kegiatan di subak.<p>Perkumpulan-perkumpulan ini menerbitkan majalah untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya dan sering memunculkan pertarungan khususnya perdebatan antara kaum intelektual <em>Triwangsa</em> dan <em>Jaba</em>.</p> <p>Pertarungan lewat tulisan pada masa ini yang paling dikenal adalah antara <em>Bali Adnyana</em> dan <em>Surya Kanta</em>, dengan tokoh-tokoh di antaranya: Tjakra Tenaja, Ketoet Nasa, Njoman Kadjeng, Wajan Roema, dll.</p><p>Di era ini juga ditandai dengan penggunaan Bahasa Melayu dan Bahasa Belanda yang makin meningkat terutama di kalangan intelektual <em>Jaba</em>, salah satu alasannya tidak adanya tingkatan bahasa (<em>sor singgih</em>) yang dianggap merendahkan.</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1921"
        },
        "end_date": {
          "year": "1930"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/kurator-gedong-kirtya.jpg",
          "caption": "Kurator koleksi Gedong Kirtya",
          "credit": "Mededeelingen van de Kirtya Liefrinck-van der Tuuk, Afvlering 11, 1940"
        },
        "text": {
          "headline": "Gedong Kirtya Liefrinck Van der Tuuk",
          "text": "<p></p>"
        },
        "start_date": {
          "day": 2,
          "month": 6,
          "year": "1928"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/bhwanagar-001.jpg",
          "caption": "Salah satu edisi Bhawanagara yang terbit pada bulan April 1933"
        },
        "text": {
          "headline": "Orientalisme, moderisme dan gerakan perempuan Bali",
          "text": "<p>Sementara itu pada tahun 1930-1935 Dr. Roelof Goris seorang orientalis memimpin sebuah penerbitan bernama <em>Bhawanagara</em>, dengan anggota: Njoman Kadjeng, Ketoet Widjanegara, I Gusti Putu Jelantik, Wajan Roema, Tjakra Tenaya, dll. Majalah yang merupakan perpanjangan perpustakaan Van der Tuuk di Singaraja, memiliki tagline: <em>Soerat kabar oentoek memperhatikan peradaban Bali</em>.</p><p>Namun demikian di masa ini gerakan pemikiran modern tetap mendapat tempat. Sebuah organisasi bernama <em>Bali Darma Laksana</em> (BDL) membuat gerakan menanamkan agar wanita Bali tidak bertelanjang dada dan menjadi objek turis. Gerakan ini kemudian bersambut dengan berdirinya <em>Perkumpulan Putri Bali Sadar</em> di Denpasar di bawah pimpinan I Gusti Ayu Rapeg. Perkumpulan BDL sendiri menerbitkan <em>Majalah Djatayu (1936-41)</em> dengan Pandji Tisna sebagai editor pertama sebelum digantikan, Njoman Kadjeng, Gede Panetja dan Wajan Bhadra</p><p>Sedangkan Pandji Tisna sendiri pada masa ini aktif menerbitkan beberapa novel Berbasa Melayu seperti <em>Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)</em> hingga <em>Sukreni Gadis Bali (1936)</em></p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1930"
        },
        "end_date": {
          "year": "1941"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/flierhaar-01.jpg",
          "caption": "Lagu Bali lengkap dengan notasi Aksara Bali",
          "credit": "De aanpassing van het Inlandsch onderwijs op Bali aan de eigen sfeer, H. te Flierhaar, 1941",
          "images": [
            {
              "url": "images/literasi/gending-bali-01.jpg",
              "caption": "Taman sari I Papoepoelan gending bali oleh Wajan Djirna dan Wajan Roema, 1939"
            },
            {
              "url": "images/literasi/flierhaar-02.jpg",
              "caption": "Murid-murid belajar membaca dan menulis lontar",
              "credit": "De aanpassing van het Inlandsch onderwijs op Bali aan de eigen sfeer, H. te Flierhaar, 1941",
            },
            {
              "url": "images/literasi/flierhaar-03.jpg",
              "caption": "Gambar dengan objek dan tema lingkungan sekitar (Bali)",
              "credit": "De aanpassing van het Inlandsch onderwijs op Bali aan de eigen sfeer, H. te Flierhaar, 1941",
            },
            {
              "url": "images/literasi/flierhaar-07.jpg",
              "caption": "Memasukan unsur tarian dan nyanyian dalam kegiatan olah raga (senam)",
              "credit": "De aanpassing van het Inlandsch onderwijs op Bali aan de eigen sfeer, H. te Flierhaar, 1941",
            }
          ]
        },
        "text": {
          "headline": "Baliseering dalam pendidikan",
          "text": "<p>Gerakan literasi kaum terpelajar Bali yang tidak jarang menimbulkan perdebatan sengit mengkhawatirkan pemerintah. Lebih-lebih kekhawatiran pemerintah terhadap pengaruh pendidikan barat pada keberlangsungan kebudayan lokal yang tidak hanya akan terimbas oleh perkembangan pariwisata namun juga oleh pemikiran-pemikiran modern. Di era ini pemerintah merasa perlu memasukan gerakan Baliseering dalam dunia pendidikan. Untuk itu Departement Pendidikan kemudian mengangkat H. te Flierhaar untuk menata pendidikan di Bali pada bulan Mei 1939.</p><p>Program <em>Baliseering</em> lewat pemikiran H. te Fliehaar yang ia terapkan pada HIS Siladarma di Klungkung diadopsi pemerintah pada tahun 1939. Program-progamnya antara lain: Program-program Baliseering-nya untuk sekolah di Bali antara lain: (1) Pembangunan gedung sekolah dengan style Bali. (2) Reformasi pendidikan menggambar. (3) Reformasi pendidikan menyanyi, (4) Mengumpulkan bahan bacaan untuk buku bacaan baru. (5) Memperkenalkan unsur-unsur tarian Bali pada pendidikan senam.</p><p>Buku <em>Taman sari I Papoepoelan gending bali</em> oleh Wajan Djirna dan Wajan Roema yang diterbitkan pada bulan Desember 1939 adalah hasil dari program ini. Kedua penyusun berhasil merangkum lagu anak-anak yang tersebar di Bali lengkap dengan notasi aksara Balinya</p>"
        },
        "start_date": {
          "month": 5,
          "year": "1939"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/1773 cbb1 f120-178m03.JPG",
          "caption": "Sekolah Dasar di Peliatan adalah salah satu wujud jejak pelaksanaan program Baliseering yang menonjolkan elemen arsitektur Bali dalam bangunannnya",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Sekolah Rakyat",
          "text": "<p>Pasca kemerdekan, <em>Sekolah Rendah</em> berganti nama menjadi <em>Sekolah Rakyat</em> untuk menghilangkan perbedaan strata di masyarakat</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1945"
        },
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/SLU-001.JPG",
          "caption": "Aksi siswa Sekolah Lanjut Umum yang bergabung pada Gerakan Nasional Indonesia (GNI) di Denpasar, 17 Agustus 1949",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Sekolah Partikelir SLU",
          "text": "<p>Majelis Pendidikan Rakyat dengan melahirkan <em>Sekolah Landjoet Oemoem</em>, sekolah swasta yang awalnya berdiri di Banjar Kaliungu Kelod, Denpasar dan kelak menjadi Perguruan Rakyat Saraswati</p><p>Dalam perjalannnya pada masa revolusi kemerdekaan sekolah ini mengalami pasang surut seiring tokoh-tokohnya dicurigai bahkan ditahan Belanda karena haluannya ke Republik</p><p>Tokoh-tokoh yang terkait dengan SLU diantaranya: I Gusti Putu Merta, I Gusti Bagoes Oka, I Nyoman Kadjeng, Ida Bagus Putra Manuaba, dll.</p>"
        },
        "start_date": {
          "day": 8,
          "month": 12,
          "year": "1947"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/contents/Dronkers Selected_210.JPG",
          "caption": "Kunjungan Paruman Para Pandita ke Puri Pemecutan",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Kongres Paruman Para Pandita di Denpasar",
          "text": "Sebuah organisasi yang menaungi <em>peranda</em> bernama Paruman Para Pandita dengan ketua Ida Pedanda Made Kemenuh dideklarasikan pada 31 Januari 1947 di Singaraja.  Organisasi yang mendapat dukungan Dewan Raja - Raja ini awalnya terbatas di wilayah Buleleng. Baru pada kongresnya di Denpasar pada 6 November 1948 diperluas menjadi Paruman Para Pandita Bali Lombok dengan tujuan awal untuk menyatukan <em>Agama Siwa - Budha.</em><p>Sebuah kongres dengan agenda utama memilih nama agama di Bali dilaksanakan pada tanggal 16 - 19 November 1949 di Singaraja. Dengan dukungan sebagian besar raja-raja di Bali yang hadir pada saat itu dipilih Agama Tirta mengalahkan nama-nama lain seperti: Agama Siwa, Siwa-Budha, Bali Hindu dan Hindu. Pada saat itu juga ditegaskan bahwa hanya pedanda Siwa dan Budha yang memiliki wewenang untuk menasbihkan calon pedanda.</p><p><small>Lihat: Michagel Picard, <em>Balinese Religion in Search of Recognition From Agama Hindu Bali to Agama Hindu 1945-1965</em> ( 2011), hal. 487 <br>Laporan M. Boon menyebutkan Paruman Para Pandita Bali berdiri pada 8 Januari 1948. Lihat: Dr. M. Boon, <em>Politiek verslag van de Residentie Bali en Lombok over de Eerste Helft van Januari 1948</em>, 23 Januari 1948, hal. 4.<br><small>Op 8 Januari j.l. werd de \"Paroeman Para Pandita Bali\" gesticht ten deel hebbende de Bali-Hindu priesters te verenigen en de kennis der religie bij het volk te verdiepen</small><br>Lihat: Dr. M. Boon, <em>Politiek verslag van de Residentie Bali en Lombok over de Eerste Helft van de maand November 1948</em>, 2 Desember 1948, hal. 6.<br><small>In het verig verslag werd reeds gesproken over het Congres van Pedanda's dat op 6 November te Denpasar plaats had, waarbij de \"Paroeman Pandita\" werd opgericht. Deze stelt zich ten deel meer eenheid te verwezenlijkn (b.v.in de feestkalender), beter inzicht te verwerven en te verbreiden in de Hindoetheologic en tenslette de oprichting van een school voor te bereriden waar pedanda's hun opleiding kunnen ontvangen.</small></small></p>"
        },
        "start_date": {
          "day": 6,
          "month": 11,
          "year": "1948"
        },
        "unique_id": "paruman-para-pandita",
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/727 abb1 f1-74m22.JPG",
          "caption": "Muda mudi Singaraja sedang membaca koran di ruang baca Balai Kemadjuan Singaraja, circa 1948",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Mengembalikan literasi pasca perang",
          "text": "<p>Pasca mengundurkan diri sebagai Raja Buleleng sekaligus parlemen NIT, A.A. Pandji Tisna mulai kembali melirik dunia literasi yang sempat hilang karena situasi perang. Banyak sekolah tutup karena tokoh-tokohnya terlibat perang. Ia kemudian membangun sebuah perpustakan dan ruang baca dengan plang <em>Balai Kemadjuan Singaradja</em></p><p>Perpustakaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama <em>Perpustakaan Udiyana Adnyana Bhuwana</em>"
        },
        "start_date": {
          "month": 2,
          "year": "1948"
        },
        "display_date": "Circa 1948",
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/735 abb1 f1-74m22.JPG",
          "caption": "A.A. Pandji Tisna diiringi muda-mudi keluar di ruang baca Balai Kemadjuan Singaraja, circa 1948",
          "credit": "P.L. Dronkers",
          "images": [
            {
              "url": "images/literasi/1821 cbb1 f120-178m04 dr verhoeven.JPG",
              "caption": "Dr. Frans Rijndert Johan Verhoeven (tengah), direktur STICUSA bersama A.A. Panji Tisna (kiri) dan Dr. Roelof Goris (no.2 dari kanan) saat berkunjung ke Bali, Februari 1949",
              "credit": "P.L. Dronkers"
            }
          ]
        },
        "text": {
          "headline": "Dari Balai Kemadjuan Singaradja ke Sekolah Bhaktiyasa",
          "text": "<p>Sebuah perpustakaan dan ruang baca sepertinya tidak cukup bagi Pandji Tisna, ia kemudian melakukan studi tentang pelaksanaan pendidikan tinggi ke India. Hasilnya pada presentasikan di depan Njoman Tirta dan Wajan Roema pada 29 Mei 1948 sebelum akhirnya diputuskan membentuk sebuah yayasan pengelola sekolah partikelir pada 4 Juni 1948</p><p>Tepat pada tanggal 2 Agustus 1948 sebuah sekolah menengah (setingkat SMP) yang bernama <em>Sekolah Bhaktiyasa</em> secara resmi dibuka lewat sambutan oleh Wajan Roema. Pada saat itu sekolah masih memanfaatkn ruangan baca Perpustakaan Udiyana Adnyana Bhuwana. Bangunan sekolah kemudian baru dibangun secara bertahap setelah mendapatkan dana dari penggalangan dana. Salah satunya pada acara malam amal yang dilakukan pada 14-24 Maret 1949</p><p>Pada bulan Februari sekolah ini dikunjungi dr. Frans Rijndert Johan Verhoeven, direktur StiCUSA dan mantan lembaga arsip Hindia Belanda, mengundang Pandji Tisna ke Belanda untuk belajar tentang pengelolaan pendidikan tinggi</p>"
        },
        "start_date": {
          "day": 2,
          "month": 8,
          "year": "1948"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/976 bbb1 f1-74m06.JPG",
          "caption": "Henk J. Franken mengajarkan Bahasa Inggris di Sekilah Bhakiyasa, circa 1949",
          "credit": "P.L. Dronkers"
        },
        "text": {
          "headline": "Pelatihan Guru Sekolah Bhaktiyasa",
          "text": "<p>Untuk kelancaran pendidikan dilakukan pelatihan bagi guru-guru yang akan mengajar selama 1 tahun, 7 bulan. Dari 19 guru beberapa diantaranya adalah: Dr. Hariwidjojo (Kesehatan), dr. Goris (Sejarah dan Budaya), Patih Made Tjingak (Menggambar), Bpk. Panetja (Lembaga Negara), Pendeta Franken (Bahasa Inggris) dan istri Pendeta Franken (Bahasa Belanda)</p>"
        },
        "start_date": {
          "year": "1949"
        }
      },
      {
        "media": {
          "url": "images/literasi/2259 cbb1 f120-178m16.JPG",
          "caption": "Pemuda dan pemudi Bali dari berbagai elemen dan ormas menyatakan dukungan kepada Republik di Denpasar. Di antara kerumunan terlihat sebuah spanduk dari <em>Sekolah Landjut Oemoem</em> (cikal bakal P.R. Saraswati) yang berdiri tanggal 8 Desember 1946 namun ditutup seiring pelarangan PARRINDO, Juni 1947",
          "credit": "P.L. Dronkers",
          "images": [
            {
              "url": "images/literasi/2265 cbb1 f120-178m17.JPG",
              "caption": "Ida Bagus Putra Manuaba di depan masa GNI, 17 Agustus 1949",
              "credit": "P.L. Dronkers"
            }
          ]
        },
        "text": {
          "headline": "Kaum Intelektual dalam Gerakan Nasional Indonesia",
          "text": "<p>Menjelang diadakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag akhir Agustus 1949, pemerintah Republik Indonesia dan Bijeenkomst voor Federale Overleg (BFO) / negara - negara federal bentukan Belanda mengadakan Konferensi Inter - Indonesia I (Yogyakarta, 19 - 22 Juli 1949) dan II (Bandung, 31 Juli - 2 Agustus 1949). Hasilnya relatif menguntungkan Republik, diantaranya: pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan dukungan BFO atas tuntutan Republik Indonesia tentang penyerahan kedaulatan tanpa syarat.</p><p>Dua pemimpin nasonialis pendukung Republik yang juga anggota parlemen NIT, Ida Bagus Putra Manuaba (ketua Majelis Pendidikan Rakyat yang menaungi SLU, hasil pertemuan bulan Februari 1949) dan Made Mendra kemudian memanfaatkan momentum perayaan 17 Agustus 1949 untuk bergerak dan membentuk GNI di Denpasar. Organisasi ini menuntut pemerintahan NIT agar melepaskan semua tahanan politik yang tidak terlibat tindakan kriminal</p><p>Bulan - bulan selanjutnya banyak bermunculan organisasi yang berorientasi Republik. Mulai kelompok pemuda, organisasi siswa, guru hingga perempuan dari koperasi, serikat pekerja dan perusahaan dagang. Selain itu gerakan ini didukung oleh kelompok - kelompok kerja yang mengumpulkan dana untuk Republik. Salah satu yang paling penting adalah kelompok baru yang berhaluan kiri namun lebih militan dibandingkan GNI yaitu Gerakan Pemuda Indonesia (Gerpindo) yang berdiri pada 5 September 1949 dengan tokoh utama Sutedja, Gde Puger dan Ida Bagus Mahadewa</p>"
        },
        "start_date": {
          "day": 17,
          "month": 8,
          "year": "1949"
        }
      }
    ]
  })
  